Berhenti membuat orang lain senang secara semu

List pertama adalah “Membuat orang lain senang secara semu”. Semu yang saya maksud adalah memaksakan diri agar orang lain bisa senang. Dalam bahasa sederhana, kalimat diatas sama dengan membuat orang lain senang dengan cara mengorbankan diri sendiri.

Berapa banyak dari kita yang terpaksa berhutang kartu kredit besar-besaran dan terlilit hutang yang sulit dilunasi hanya karena kita gengsi. Hanya karena kita harus mentraktir orang lain supaya mereka senang dan mau mengapresiasi kita.

Berapa banyak dari kita yang terlibat narkoba hanya karena kita tidak enak pada teman. Karena kita takut dianggap pengecut.

Berapa banyak dari kita yang berani mengeroyok orang lain, melukai orang lain, menyiksa orang lain hanya karena kita tidak mau dianggap tidak setia kawan.

Berhentilah berbuat demikian. Anda tidak akan bahagia. Jika anda menyangka orang lain akan bahagia dengan cara demikian, percayalah, kebahagiaan itu tidak permanen dan dapat berubah dalam sekejap.

Berhentilah berkata “Ya” jika nurani anda berkata “tidak”. Hidup kita adalah milik kita, susah senang kita juga yang menjalaninya. Mengapa kita harus mengorbankan hidup, kebahagiaan dan kesenangan kita hanya untuk membuat orang lain senang.

Berhentilah menipu diri sendiri dengan mengatakan, “Saya bahagia jika kamu bahagia, meski untuk itu kamu harus berpisah denganku”. Sentimentil silakan saja tapi jangan memaksakan diri untuk berkorban terlalu besar.

Saya mungkin kelihatan terlalu fatalis dan terlalu menimbang untung rugi dari suatu pengorbanan. Sebenarnya tidak juga. Saya hanya ingin kita semua dapat menjalani hidup tanpa harus menjadi bunglon. Kelihatan bahagia diluar namun merana didalam. Kelihatan senang namun ternyata menyimpan duka lara dihati.

Saya teringat kisah seorang teman yang terlibat hutang kartu kredit yang sangat besar dan menjadi kejaran debt collector. Gaji yang dia dapatkan hanya cukup untuk sekedar membayar minimum payment tagihan kartu kredit. Bunga kartu kredit yang berbunga lagi membuat hatinya tak pernah berbunga-bunga.

Dia sebenarnya punya pekerjaan yang baik dan penghasilan yang cukup, namun dia orangnya “tidak enakan”. Jika ada rekan kantor yang menyindir, “Ayo dong makan diluar”, dia tidak menolaknya meski untuk itu dia harus menggesek kartu kredit.

Awalnya berupa traktir makan. Kemudian clubbing. Kemudian gengsi merk dan seterusnya. Lama-lama, hal tersebut mulai menggerogoti kesehatan finansialnya. Mulai berdampak pada prestasi kerjanya. Jika tidak hati-hati, dia akan terjerembab pada kesulitan keuangan yang berasal dari kasus yang sepele.

Mencari dan membangun pertemanan adalah sesuatu yang positif namun hendaknya dilakukan dengan cara yang positif juga. Jika ada orang lain yang baru mau berteman jika anda mau mentraktirnya, mau menuruti permintaannya, mau berkorban untuknya, pertimbangkanlah baik-baik sejauh mana anda harus berkorban.

Membuat orang lain senang dengan mengorbankan keuangan anda, kesehatan anda, kebahagiaan anda, itu sama saja membiarkan anda menjadi lilin yang membakar dirinya sendiri. Jika lilin memberikan arti cahaya dalam kegelapan, anda bisa jadi sekedar menjadi lilin disaat cahaya terang benderang. Sudah berkorban, tak bermanfaat pula

~ by Putri Mulia Gurnitha on January 2, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: