Merokok & Perempuan

Kebiasaan merokok pada awal abad ke-20 sangat jarang di kalangan perempuan dan menjadi suatu hal yang lazim di kalangan perempuan setelah dilakukan laki-laki. Pada tahun 2006, sekitar 20,2juta (17.8%) perempuan merokok di Amerika Serikat. Walaupun perempuan perokok lebih sedikit dibandingkan laki-laki, perbedaanpersentasenya semakin menurun. Sekarang, dengan perbedaan jumlah yang semakin sedikit diantara perempuan perokok dengan laki-laki perokok, perempuan menanggung beban berat penyakit yang bisa ditimbulkan akibat kebiasaan merokok ini.

Sekitar 80% kematian karena kanker paru-paru di kalangan perempuan di AS disebabkan oleh kebiasaan merokok. Pada tahun 1987, kanker paru-paru melampaui kanker payudara sebagai penyebab kematian karena kanker di kalangan perempuan di AS.

Perempuan perokok berusia 35 tahun ke atas beresiko 12x lebih tinggi daripada perempuan nonperokok, akan meninggal akibat kanker paru-paru dan COPD. Tahun 2008, diperkirakan 71.030 perempuan akan meninggal akibat kanker paru-paru dan bronkus.

Merokok mengakibatkan lebih dari 90% kematian akibat Chronic Obstructive Pulmonary Disease(COPD)/Penyakit Paru Obstruktif Kronik-PPOK, atau emphysema dan bronchitis kronis setiap tahunnya. Pada tahun 2005, sekitar 52% kematian akibat COPD terjadi di kalangan perempuan. Ini adalah tahun ke-6 jumlah perempuan melampaui jumlah laki-laki yang meninggal akibat COPD.

Setiap tahun, kebiasaan merokok menjadi penyebab kematian sekitar 178.408 perempuan di AS.

Perempuan perokok juga berisiko lebih tinggi terkena kanker mulut, faring, laring (kotak suara), esofagus, pankreas, ginjal, kandung kemih, dan leher rahim.

Perempuan perokok beresiko lebih tinggi 2x terkena penyakit jantung koroner.

Perempuan perokok yang sudah menopause memiliki kepadatan tulang lebih rendah daripada perempuan yang tidak pernah merokok. Perempuan perokok berisiko tinggi terkena patah tulang pinggul dibandingkan dengan perempuan nonperokok. Merokok juga dapat mengakibatkan kulit lebih cepat keriput sehingga penampilan perempuan perokok menjadi kurang menarik dan kelihatan lebih tua dari usianya.

Perempuan menjadi target utama pemasaran tembakau yang bertema menjadi seseorang yang disenangi, mandiri, dan berat badan yang terkontrol. Pesan tersebut gencar disampaikan dalam berbagai bentuk iklan dengan memakai model yang berbadan langsing, menarik, dan atletis.

Remaja perempuan merokok dengan alasan menghindari kelebihan berat badan dan menjadikannya sebagai identitas diri sebagai remaja yang mandiri dan menarik. Hal tersebut merupakan refleksi iklan tembakau. Kesan sosial dapat meyakinkan remaja bahwa kelebihan berat badan adalah lebih buruk daripada merokok. Iklan rokok juga menyebutkan bahwa rokok dapat menyebabkan badan lansing dan menekan nafsu makan.

Sejak tahun 1990 banyak remaja dan dewasa yang merokok selama masa kehamilan. Pada tahun 2005, 16.6% remaja perempuan berusia 15-19 tahun dan 18.6% perempuan berusia 20-24 tahun merokok selama masa kehamilan.

Pusat perawatan pasca kelahiran bagi ibu yang merokok di AS menghabiskan dana sekitar $366 juta per tahun, atau sekitar $740 untuk tiap orang ibu yang merokok.

Anak dari ibu yang merokok dapat terpapar nikotin melalui air susu ibu. Merokok tidak hanya dapat meneruskan nikotin kepada janin, tetapi juga mengurangi suplai oksigen yang melalui plasenta sebesar 25%. Merokok selama masa kehamilan juga menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah hingga 20-30%, kelahiran sebelum waktunya hingga 14%, dan kematian bayi sekitar 10%.

Bayi juga rentan terkena selesma, bronkitis, dan penyakit pernapasan lainnya jika disekitarnya terdapat perokok. Ibu yang merokok juga dapat mengakibatkan bayi dan anaknya rentan terkena asma. Resiko terkena asma 2x lebih tinggi pada anak yang ibunya merokok lebih dari 10 batang rokok per harinya.

Mengurangi frekuensi merokok juga kurang bermanfaat bagi bayi. Seorang wanita hamil yang mengurangi jumlah rokok atau mengganti rokoknya dengan rokok yang rendah kadar nikotinnya mungkin akan menghirup atau menghisap lebih banyak rokok untuk mendapatkan kadar nikotin yang sama dengan sebelumnya.

Cara yang paling efektif untuk melindungi janin adalah dengan berhenti merokok. Perempuan yang merencanakan kehamilan harus mau untuk berhenti merokok. Perempuan yang berhenti merokok dalam usia kehamilan 3-4 bulan pertama dapat menurunkan resiko bayinya lahir prematur atau menghindarkan bayinya terkena penyakit akibat rokok ini.

Perempuan yang berhenti merokok dapat mengurangi resiko timbulnya penyakit akibat rokok dan kematian di usia muda.

Perempuan yang telah berhenti merokok dapat kambuh lagi karena banyak alasan. Stres, berat badan, dan emosi menjadi alasan bagi perempuan untuk kembali merokok.

Penelitian yang dilakukan pada perokok usia setengah tua dan mantan perokok yang menderita COPD dapat bernafas lebih mudah. Setelah satu tahun berhenti merokok, fungsi paru-paru pada perempuan 2x lebih bagus dibandingkan pada laki-laki yang berhenti merokok.

Untuk informasi selengkapnya tentang tembakau, dapat merujuk www.lungusa.org

Penerjemah : Dewi Anggoro W

http://www.cdc.gov/tobacco/data_statistics/fact_sheets/populations/women_tobacco.htm

~ by Putri Mulia Gurnitha on December 25, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: