Diare, Muntah & Dehidrasi

Masih dari tulisannya Dr. Purnamawati SpaK.
Sangat bermanfaat ketika anak diare atau muntah, biar enggak kayak pengalamanku waktu Audrey kecil, dikit-dikit kasih obat, padahal enggak perlu malah membuat tubuhnya mendapatkan zat kimia yang berbahaya😦

Diare

Diare adalah gangguan pencernaan yang biasa dialami oleh semua orang, termasuk anak-anak. Diare adalah keluarnya feses yang berair. Diare juga berarti makin seringnya frekuensi buang air besar. Diare dapat disebabkan infeksi oleh mikroorganisme seperti virus, bakteri, ataupun parasit. Penyebab lainnya adalah konsumsi obat-obatan, terutama antibiotik, dan pemakaian pemanis buatan.

Diare biasanya akan berlangsung dalam 1 minggu (3 hingga 6 hari) kemudian akan sembuh sendiri. Diare kronik berlangsung lebih lama daripada diare akut. Dan biasanya merupakan petanda terdapat gangguan kesehatan yang lebih serius seperti infeksi kronik, absorpsi zat gizi yang tidak baik dan maksimal (malaabsorpsi) ataupun disebabkan oleh penyakit yang disebut Irritable Bowel Syndrome.

Anak dengan diare yang disebabkan oleh infeksi biasanya didahului dengan gejala demam dan muntah. Setelah itu baru timbul diare. Biasanya anak akan merasa “tidak enak” tapi tidak merasa sakit. Infeksi oleh bakteri ataupun parasit biasanya menyebabkan fesesnya bercampur darah.

Penyebab Diare

Normalnya, makanan dan minuman yang kita cerna akan terdapat dalam bentuk cairan selama proses pencernaan. Ketika melewati usus besar, sebagian besar cairan akan diserap sehingga menyebabkan konsistensi feses menjadi agak padat. Pada keadaan diare, makanan dan minuman yang kita cerna melewati usus besar terlalu cepat ataupun terlalu banyak. Sehingga sebagian besar cairan tidak dapat diserap. Hal tersebut juga dapat disebabkan apabila lapisan mukosa yang menyelimuti usus besar mengalami inflamasi (radang) ataupun mengalami proses patologis (kelainan).

Penyebab paling sering diare antara lain:

§ Virus.
Penyebab paling sering pada anak adalah Rotavirus dan Adenovirus. Biasanya tertular akibat kontak langsung.
§ Bakteri.
Penyebab paling sering antara lain Campylobacter, Salmonella, Shigella, dan Escherichia coli. Biasanya tertular dari makanan ataupun minuman yang terkontaminasi bakteri. Beberapa bakteri menghasilkan zat toksin yang menyebabkan sel usus halus memproduksi cairan melebihi kemampuan usus besar untuk menyerap cairan, keadaaan tersebut yang menyebabkan terjadinya diare.
§ Parasit.
Antara lain Giardia lamblia dan Cryptosporidium. Biasanya tertular dari makanan ataupun minuman yang terkontaminasi parasit.

Laktosa, salah satu jenis gula yang terdapat dalam susu atupun produk yang terbuat dari susu juga dapat menyebabkan diare pada beberapa orang (Intoleransi laktosa).

Diare juga dapat terjadi akibat efek samping obat-obatan yang dikonsumsi, terutama antibiotik. Hal tersebut terjadi karena antibiotik dapat mengganggu keseimbangan alamiah bakteri yang terdapat di usus halus.

Tata Laksana Diare dan Dehidrasi
Untuk anak yang menderita diare ringan, pemberian makanan maupun susu dapat diteruskan seperti biasa. Pemberian ASI harus diteruskan. Jika anak terlihat kembung ataupun sering flatus setelah minum susu sapi ataupun susu formula, segera berkonsultasi dengan DSA untuk mengubah pola makan sementara waktu. Cairan khusus tidak diperlukan untuk anak dengan sakit ringan.

Untuk anak dengan diare moderat masih dapat dirawat di rumah dengan observasi ketat, pemberian cairan khusus, dan konsultasi DSA. DSA akan merekomendasikan jumlah dan lamanya penggunaan cairan khusus yang diperlukan. Nantinya anak dapat kembali memulai pola makannya seperti biasa lagi. Beberapa anak yang sedang menderita diare tidak dapa mentoleransi susu sapi sehingga DSA menganjurkan untuk menghentikan sementara pemberiannya. Pemberian ASI terus diberikan.

Berbagai cairan khusus telah dibuat untuk mengganti kehilangan cairan dan elektrolit selama terjadinya diare. Cairan tersebut sangat membantu dalam tata laksana diare. Jangan berusaha untuk membuat cairan khusus tersebut sendiri oleh karena komposisi bahannya yang agak rumit, sehingga pada akhirnya justru dapat membahayakan anak. Cairan khusus yang ada saat ini antara lain:

§ Pedialyte (Ross laboratories).
§ Infalyte (Mead Johnson nutritionals).
§ ReVital (PTS Labs).

Selain itu masih banyak cairan khusus lainnya termasuk yang generik.

Jika anak tidak muntah, pemberian cairan khusus dapat diberikan hingga frekuensi buang air kecil anak normal kembali.

Jika anak mengalami diare berat, cairan pengganti mungkin diberikan melalui selang infus di ruang gawat darurat selama beberpa jam untuk memperbaiki keadaan dehidrasi. Biasanya tidak diperlukan perawatan di rumah sakit.

Pemberian antibiotik tidak akan menyembuhkan diare yang disebabkan oleh virus yang merupakan penyebab tersering terjadinya diare.

Selama penyakit ini berjalan secara alamiah berikut beberapa hal yang harus dan yang tidak boleh dilakukan.

Harus dilakukan:

§ Memperhatikan apakah terdapat tanda-tanda dehidrasi seperti, berkurangnya frekuensi buang air kecil, tidak ada air mata saat menangis, demam tinggi, mulut kering, berat badan turun, anak terlihat sangat kehausan,lesu tidak bergairah, kelopak mata cekung.
§ Beritahu DSA jika ada perubahan signifikan yang terjadi.
§ Laporkan DSA jika terdapat darah pada fesesnya ataupun demam tinggi (lebih dari 1020F/390C).
§ Teruskan pemberian makan seperti biasa jika anak tidak muntah. Namun berikanlah dalam jumlah yang lebih sedikit ataupun berikan makanan yang tidak membuat perut anak merasa tidak enak.
§ Berikan cairan pengganti khusus jika anak haus.

Tidak boleh dilakukan:

§ Membuat sendiri cairan pengganti di rumah tanpa informasi yang benar dan tepat dari DSA.
§ Tidak memberikan anak makan saat lapar.
§ Memberikan susu yang direbus, ataupun kaldu daging maupun sup yang asin.
§ Memberikan obat-obat “anti-diare”, kecuali memang diresepkan oleh DSA.

Konsulatasi DSA

Orang tua harus segera berkonsultasi dengan DSA apabila anak berusia kurang dari 6 bulan atau memiliki gejala-gejala:

§ Diare berlangsung lebih dari 1 minggu.
§ Terdapat darah pada fesesnya.
§ Muntah yang sering.
§ Nyeri perut.
§ Demam tinggi.
§ Terlihat sangat lemah.
§ Tanda-tanda dehidrasi, seperti:
Ù Frekuensi buang air kecil berkurang (kurang dari 6 popok/hari).
Ù Tidak ada air mata ketika menangis.
Ù Tidak mau minum.
Ù Mulut kering.
Ù Berat badan turun.
Ù Terlihat sangat kehausan.
Ù Terlihat mengantuk dan tidak responsif.

Sedangkan orang tua tidak perlu terburu-buru berkonsultasi dengan DSA jika anak terlihat baik-baik saja meskipun disertai dengan gejala-gejala:

§ Frekuensi buang air besar yang sering ddan dengan feses yang banyak.
§ Sering flatus.
§ Feses berwarna kuning ataupun hijau.

Diagnosis Diare

DSA akan menanyakan beberapa hal mengani gejala-gejala yang terjadi dan menentukan apakah telah terjadi dehidrasi. Beritahukan DSA obat-obatan yang sedang dikonsumsi, termasuk obat yang dibeli bebas.

DSA kemudian akan melakukan pemeriksaan perut untuk melokalisasi nyeri yang dirasakan, mendengarkan suara perut (bising usus) dengan menggunakan stetoskop, dan melakukan pemeriksaan melalui anus jika diperlukan. Jika diarenya berat ataupun telah kronik, biasanya akan dilakukan pemeriksaan feses.

Pencegahan Diare

Beberapa hal dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya diare, antara lain:

§ Mencuci tangan.
§ Gunakan produk terbuat dari susu yang telah dipasteurisasi untuk membunuh bakteri.
§ Jangan biarkan makanan pada suhu ruangan oleh karena dapat merangsang pertumbuhan bakteri.
§ Masaklah makanan dan air minuman hingga matang.

Muntah

Pada anak-anak, muntah biasanya terjadi karena berbagai rangsangan, antara lain, sakit, menelan bahan toksik, ataupun stres emosional akibat tekanan di lingkungan sekolah maupun rumah.

Muntah yang hanya terjadi satu kali tidak perlu dikhawatirkan. Sedangkan muntah yang berlangsung berulang kali dapat merupakan petanda bahwa anak memerlukan bantuan medis. Terutama apabila disertai dengan gejala-gejala seperti nyeri perut, demam, ataupun sakit kepala.

Segera berkonsiltasi dengan DSA apabila muntah yang terjadi disertai dengan gejala-gejala:

§ Nyeri perut.
§ Terdapat darah ataupun cairan empedu (berwarna hijau) pada muntah.
§ Anak terlihat linglung, apatis, dan menjadi cengeng.
§ Telah mengalami diare lebih dari 12 jam.
§ Terdapat tanda-tanda dehidrasi.
§ Selalu muntah setiap sehabis diberi makan dalam 12 jam terakhir.

Tata Laksana Muntah

Muntah biasa terjadi pada anak dan sering membuat rasa tidak nyaman. Walaupun begitu, biasanya mintah yang terjadi tidak berbahaya dan segera berakhir. Selama muntah, harus diperhatikan jangan sampai terjadi dehidrasi akibat kehilangan cairan, terutama apabila disertai dengan gejala demam dan diare. Biasanya anak tidak akan napsu makan, maka teruslah mendorong anak untuk selalu minum. Biarkan anak memilih minuman yang disukainya. Hindari pemberian minuman yang kadar gula dan kafeinnya tinggi karena justru akan membuat anak menjadi sering buang air kecil dan memperburuk terjadinya kehilangan cairan.

Ketika muntahnya telah berhenti selama beberapa jam dan tidak terjadi lagi kehilangan cairan, mulailah memberinya makanan yang ia suka. Beberapa pilihan antara lain roti panngang, bubur gandum, pisang, saus apel, ataupun telur rebus. Sebaiknya jangan berikan makanan yang terbuat dari susu maupun makanan yang mengadung serat tidak larut dalam air seperti sayuran dan buah berserat, serta sereal kulit padi hingga perut anak terasa sudah lebih nyaman. Segera berikan pola makan seperti biasa kembali jika keadaan anak sudah membaik.

~ by Putri Mulia Gurnitha on December 25, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: